SISTEM PERKULIAHAN ONLINE IAIN BENGKULU MENJADI
PERSOALAN BAGI MAHASISWA
Kaprawi Rahim salah satu mahasiswa Program Studi
Komunika dan
Penyiaran Islam yang mengeluhkan sistem kuliah Dalam Jaringan (Daring) atau online.
Penyiaran Islam yang mengeluhkan sistem kuliah Dalam Jaringan (Daring) atau online.
Benarkah kuliah online tidak efektif...????
Kaprawi Rahim, Bengkulu
Dalam rangka mengikuti
himbauan Derekturat Jendral Pendidikan Tinggi Agama, untuk memutus rantai penyebaran
Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) atau yang familiar disebut Virus Corona,
Institut Agama Islam Negeri Bengkulu (IAIN Bengkulu) merubah sistem perkuliahan,
yang sebelumnya manual (Tatap Muka), menjadi perkulihan dengan sistem Dalam Jaringan
(Daring) atau online pada setiap mata kuliah.
Perubahan sistem
perkuliahan yang semula tatap muka menjadi peruliahan dengan sistem online, diharapkan
bisa berjalan dengan efektif dan efesien. Serta tidak membebankan mahasisawa
dalam mengikuti perkuliahan yang berlangsusng secara online.
Namun hal yang diharapkan
berbeda jauh dari fakta yang dialami sebagian besar mahasiswa. Keefektifan
pembelajaran daring menjadi persoalan bagi sebagian besar mahasiswa, seperti
banyaknya tugas, minimnya fasilitas, yang pada akhirnya berpengaruh pada tingkat
pemahaman mahasiswa terhadap materi yang disampaikan.
Kumarudin, salah
satu mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES), mengeluhkan pemberlakuan
sistem peruliahan dalam jaringan atau online. Dia menjelaskan perkulahan
dengan sistem online sangat membebani mahasiswa. Hal ini dikarenakan
sebagaian besar mahasiswa IAIN Bengkulu berdomisili di desa, dengan sinyal yang
tidak stabil bahkan tidak ada sama sekali.
“Mahasiswa IAIN Bengkulu
ini, lebih kurang delapan puluh persen berasal dari desa, termasuk salah
satunya saya. Jika perkulihan dilakukan dengan sistem online, maka
mahasiswa yang terlanjur pulang kampung, tidak bisa mengikuti perkulihan dengan
efektif dan efesien, karena sebagian besar di desa-desa mahasiswa terkendala dengan
sinyal.” Ujarnya.
Hal yang sama
juga dikeluhkan oleh Ganda Warman selaku mahasiswa Program Studi Ilmu
Pengetahuan Sosial “ Berkaitan dengan kuliah online tentu yang menjadi
kendala adalah sinyal/jaringan, kuota, dan laptop. Bahwasannya, sekarang
kebanyakan susah sinyal di beberapa daerah pelosok khususnya. Dan tidak semua
mahasiswa mempunyai peralatan perkuliahan seperti laptop.” Ungkapnya.
Selain terkendala
kurangnya sinyal, dan koata. Kuliah online juga menyebabkan kurangnya
pemahaman terhadap materi yang disampaikan oleh dosen. Kaprawi Rahim, mahasiswa
yang berkosentrasi di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
mengatakan sistem perkuliahan online sangat berpengaruhh pada tingkat
pemahaman mahasiswa terhadap materi yang disampaikan.
“Pemahaman
mahasiswa terhadap materi yang disampakan, tentu akan sangat dipengaruhi oleh
sistem komunikasi yang digunakan. Menurut pendapat saya, akan lebih sulit
mendapatkan pemahaman materi yang disampaikan secara online dari pada
tatap muka secara langsung. Hal ini karena mahasiswa, tidak semuanya memiliki
tingkat pemahaman yang cepat, bahkan ada yang harus berulang kali dijelaskan
baru bisa mengerti." Jelasnya.
Pemberian tugas
yang banyak dengan deadline yang singkat
juga menjadikan kendala tersendiri, Eko Apriansah selaku mahasiswa
Pendidikan Bahasa Arab berpendapat bahwa tugas tidak sama seperti biasanya,
tugas online lebih banyak dan lebih menyulitkan mahasiswa. Juga dalam
perkuliahan banyak dosen yang hanya berfokus pada pemberian tugas tidak diimbangi
dengan pemberian materi dan melakukan diskusi.
Terkait dengan
keluh kesah mahasiswa tersebut, pihak Kampus IAIN Bengkulu dalam hal ini Humas,
telah menanggapi hal tersebut melalui akun resmi Facebook IAIN Bengkulu, yang mengatakan para petinggi
Kampus IAIN Bengkulu, akan melakukan rapat lanjutan dalam menyikapi kendala yang
dikeluhkan sebagian besar mahasiswa tersebut.
